BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS
Tampilkan postingan dengan label derai nafas tanpa kasih-kasihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label derai nafas tanpa kasih-kasihan. Tampilkan semua postingan

Rabu, Maret 10

Bukan di Antara Fajar dan Petang (spesial post)


Baru saja aku beli sebatang dari warung kayu sebelah rumah.

Badannya lurus kaku kepalanya menjulur hitam seperti bebatu
badannya berserat sempit menyaring waktu

Lintasnya berderu di atas halaman kecoklatan
dalam detikan, hadir lentera yang basah menguning
Seperti suara sungai merindu...
titik hujan di musim gugur

Kusentuh erat menyiangi kegelapan
menanggalkan kelam dalam gulita
Menaruh separuh hangatnya di kesunyian

kuusir jauh lidah ledak dan bara
biar aman aku bernafas
tetap ku cekik naungan badai
biar tak ada pernah ia kenal menyerah...

Selasa, Januari 26

Janji-janji...

Nanti saja...

toh lupa aku akan janjiku...

Selasa, Desember 22

Meski Jarang Ku Ucap.. Aku sayang Mama...

                                                                                             Hari Ibu...

ibu... kau yang biasa ku panggil “mama”

Detik ini… aku kah di hatimu?
Mungkin baru kuingat,
Tiap saat di lubuk hatimu aku berlutut

Ini hari… sejuta surat kasihku mulai tiba
Juga sejuta maafku…
“Mama… aku menyayangimu”
Mestinya kusebut berabad lalu
Namun sungguh itu yang kurasakan…
Mama, tiada pernah kau pinta kembali
Apa yang kau beri… itu lah tulus dari dalam hatimu
Jauh di dalam… tempat ditemukannya kasihmu padaku.

Mama pasti lelah kan…
Tirakatmu kau jaga
Menunggu kasihku yang entah tak kunjung tiba di benakmu
Memang aku ini anakmu, mama…
Namun kala aku bertumbuh
Rasa sayangku padamu,, kadang semakin pudar memutih
Entah aku memang durhaka…

Mama…
Ini hari… ingin aku lihat lekuk senyummu
Meski cuman sesaat saja…
Namun berarti bagiku…

Mengingat keringat jatuh di keningmu…
Di usiamu yang terlanjur senja…
Semoga “mama” …
Kelak menjalani hidup yang lebih bahagia…

Aku menangis…
Maafkan aku… dari sejuta dosa yang kutawarkan selalu.
Ingin sebentar saja aku peluk tubuh hingga kalbumu yang terdalam

“Mama…
Aku menyayangimu… tulus, tak ingin kupinta lagi darimu…
Karena ku tahu, kasihmu tiada berkesudahan…”

Minggu, September 20

Kantuk..

renda putih berbunga kau kenakan terus. Penghujung gaun merah berbunga, yang selalu cocok buat lekuk keindahan... 

oh kasih.... aku kembali...

kembali dalam kelabu...

untuk ke dua kali, kekasih...

sempurna bundar bulan purnama...

Semburat gemilang di akhir labuhan...

kutikan awan tiada putus asanya...

menelan mari manis buat genapi rantai perkasihan itu....

ahhhh. Gelap...aku rindu cahaya..

Rabu, September 16

Ku Sebut...

Buat Pak Aldo

Kepergian, tiada pernah kausebut akhir…
Kepergian, tak pernah jadi terlalu dini…
Kepergian, tiada pernah aku sebut perpisahan…

Kepergian, bukanlah sebuah paksaan
Hanya saja, ialah takdir yang tiada pernah terelakan…

Kepergian…
Tak kau singgung satu inci jarak…
Tak kau dendang satu biduan pun…

tiada lagi kisah yang terperi
hanya lirih kenangan…

dalam kemerduan isak tangis penuh kelu…
kau pandang senja mulai membiru…
Senja terakhir…
Ketika bukan lagi kunamai langit sore…

Kepergian, pernah kau sebut-sebut…
Mula dari sebuah kerinduan…


Bila kau tiba di sana,
Kiranya aku menetap dalam kalbumu…

Biar kisah ini…
Kekal abadi… sesekali kau toleh…

Kepergian, tak pernah jadi terlalu dini…

Namun…
Memang terlalu dini…
Terlalu dini…

6
“Kehidupan adalah palungan batin
Yang menelan setiap butiran kenangan”



Sabtu, Agustus 8

Lihat! Daun kini...


Hiraukan lebah bersenandung... 

Seruan wewangi matahari...

Kamu yang nikmati - Toh, hanyalah duduk menuai senja aku ini...

Kau yang menari... Rumput tlah enggan menunggu titik- titik kakimu...

"Lihat.. daun sudah merah warnanya.

Bau hujan tiada lagi ragu merebak."

jatuh... jatuh lagi... lagi... tak henti... 

kau tertawa. aku menangis. meringis. sakit... 

atau aku yang tertawa... kau menangis... meringis. perih.. ngeri...