. . . _ . _ . _ . . . . _ _ . _ . . . . . . . _ . . . . _ . _ _ . . _ _ . . _ _ . _ . . _ . _ . . . . _ _ . _ . . . . .
Minggu, Oktober 25
Minggu, September 20
Kantuk..
renda putih berbunga kau kenakan terus. Penghujung gaun merah berbunga, yang selalu cocok buat lekuk keindahan...
oh kasih.... aku kembali...
kembali dalam kelabu...
untuk ke dua kali, kekasih...
sempurna bundar bulan purnama...
Semburat gemilang di akhir labuhan...
kutikan awan tiada putus asanya...
menelan mari manis buat genapi rantai perkasihan itu....
ahhhh. Gelap...aku rindu cahaya..
Posted by Christopher PS ketika 9/20/2009 12:28:00 AM 0 comments
Labels: hari ini saja derai nafas tanpa kasih-kasihan
Rabu, September 16
Ku Sebut...
Buat Pak Aldo
Kepergian, tiada pernah kausebut akhir…
Kepergian, tak pernah jadi terlalu dini…
Kepergian, tiada pernah aku sebut perpisahan…
Kepergian, bukanlah sebuah paksaan
Hanya saja, ialah takdir yang tiada pernah terelakan…
Kepergian…
Tak kau singgung satu inci jarak…
Tak kau dendang satu biduan pun…
tiada lagi kisah yang terperi
hanya lirih kenangan…
dalam kemerduan isak tangis penuh kelu…
kau pandang senja mulai membiru…
Senja terakhir…
Ketika bukan lagi kunamai langit sore…
Kepergian, pernah kau sebut-sebut…
Mula dari sebuah kerinduan…
Bila kau tiba di sana,
Kiranya aku menetap dalam kalbumu…
Biar kisah ini…
Kekal abadi… sesekali kau toleh…
Kepergian, tak pernah jadi terlalu dini…
Namun…
Memang terlalu dini…
Terlalu dini…
6
“Kehidupan adalah palungan batin
Yang menelan setiap butiran kenangan”
Posted by Christopher PS ketika 9/16/2009 10:15:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja derai nafas tanpa kasih-kasihan
Jumat, Agustus 28
Bilur

ruang itu sempit. tempat kunanti juita malam,
Sisihkan larik buat adinda.
Merah Delima, hari malam jelas tiada tertera.
Rembulan berbilur sinar, abadi adanya.
Pantulnya rabun rauh mulia.
Tembus terus sinarnya
Bak kenur tembus tujuh pelita
Aduh, kekasihku teluk masih belum terlihat
Burung pungguk bernyanyi, dendang, asa berliat
“Adinda,
Aku ladang permata
Di tikungan Dusun hati adinda
O, cerca kau lontar. Dikoyak ara.”
Kuasamu, adinda, beratus tulah
Terbaring lelap aku rasa
Adinda…
Mentari mengumbar tengkuk gunung hangat senantiasa.
Hari tinggal seberkas tulah
Ruang itu sempit. Tempat kunanti juita malam,
Posted by Christopher PS ketika 8/28/2009 09:44:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja Tak Kusangka
Minggu, Agustus 23
Langit T'lah biru
Mari kawan
Lenganku telah putus.
Simbahan darah, lekaslah kita pulang.
Posted by Christopher PS ketika 8/23/2009 02:05:00 AM 0 comments
Sabtu, Agustus 22
By Myself [english translation]
please, don't even give me a glance
in the days that are like the sandy winds
don't give anything to me
folding away my one heart
hiding my one tear
like it's the first time we've seen each other, like we're strangers
just pass by. it has to be like that.
by myself, i say my love, send away my love
in the folds of the lonely accumulated memories, the tears hang
even if you're far away, i hope that you'll be happy
i bury my love deeply within my heart
in the next world, when we are born
then, we'll look at each other face to face
let's be born so that we don't lose weakly in front of fate again
so that i may be a flower in front of you
i'll sing a song for you
as one's girl, as one man's lover
i want to always live by your side
by myself, i say my love, send away my love
in the folds of the lonely accumulated memories, the tears hang
even if you're far away, i hope that you'll be happy
my love, deeply within my heart...
though it hurts, though it will hurt, i will never cry
because there is no such thing as farewell in my love
when this life ends, in the next world, us two
let's love, for sure. let's love, for sure.
us two.
Posted by Christopher PS ketika 8/22/2009 11:06:00 PM 0 comments
Sabtu, Agustus 15
Harus Bagaimana...
Kehidupan selanjutnya…
Dia tetap Cinta pertama
Meski aku sebatang pohon nantinya…
Tak kan berubah dirinya
Kala aku tertidur..
Dalam pelukan musim dingin kelak aku berjanji
Cinta Kasih tak kan pudar dalam tiap tepi rantingku
Dia yang berlalu di mata, tak kan berlalu dalam benak
Kalau-kalau ia panggil daku
Harus bagaimana?
Kalau-kalau ada rindu hatinya
Harus bagaimana?
Tak kuasa. Tak pernah kuasa.
Lelahnya, dihinggapi rasa rindunya
Harus bagaimana?
Cinta pertama… selamanya kan?
Tak kan pudar. Tak kan meski telah
Kau cuci dengan guratan dosamu.
Cinta pertama…
Tak pernah pudar…
Aku terlanjur…
Namun tak ada sesalku berkulai.
Sbab lurus kaku jalanku mencintainya.
Tak bercabang terlebih tikungan.
Dia saja. tak ada inginku yang lain.
Dia saja.
Cinta pertama
Kalau-kalau aku tertidur…
Tak tentu terjaga kembali…
Hilangkah senyumnya?
Harus bagaimana?
Ia yang di sana... kalau-kalau namaku disebutnya..
…
Harus bagaimana?
Posted by Christopher PS ketika 8/15/2009 09:13:00 PM 0 comments
Sabtu, Agustus 8
Masa aku?? Yang Benar Saja...
Bagai perekat…
Palu itu kau beri
Saat kulit tak lagi kau terka…
Biar lidahku yang menuai liurmu…
Lihat… liurmu hampir menetes
Mari… biar keagungan lirih,
Nafsu perianganmu menyambar tak henti
Lekas-lekas kujala. Hingga nanti kita bersua di ranjang
Tapi jangan sekalipun lirik hati punyaku. Tak baik adanya perlakuan itu
Biar kusingsingkan aroma itu. ku buat sirna apa yang kau pakai
Biarkan sekali aku melolong… kau diam saja, terima…
Toh aku tak pernah kaberatan… kenapa juga kau?
Lekas kau riakan jeratan rambut kecil
Aku pun tak pernah meminta, pedulikah kau anjing pada melolong?
Biar semua mati… aku tak pernah perduli… kenapa juga kau?
Mari… tarianku belumlah usai.
Harap saja kau tak hilang birahi.
Jangan peduli laut gusar. Ombaknya serupa tarian kita.
Tak henti tak lelah.
Memang raga di sini. Namun entah fikiran hilangnya…
Janji saja kali ini… bila ada buah terkulai… jangan segan kau petik .
Berilah nama Arjuna. Bagai apa yang Mertuamu punya mimpi
Biar ia berkalana seperti aku. Tak sendiri.
Minta lah Nafsunya memeluknya.
Kau tahu fikirannya. Teluk-teluk laknat dan mantra yang ia telan…
Ya… Arjuna saja namanya..
Posted by Christopher PS ketika 8/08/2009 10:56:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja Tak Kusangka
Lihat! Daun kini...
Hiraukan lebah bersenandung...
Seruan wewangi matahari...
Kamu yang nikmati - Toh, hanyalah duduk menuai senja aku ini...
Kau yang menari... Rumput tlah enggan menunggu titik- titik kakimu...
"Lihat.. daun sudah merah warnanya.
Bau hujan tiada lagi ragu merebak."
jatuh... jatuh lagi... lagi... tak henti...
kau tertawa. aku menangis. meringis. sakit...
atau aku yang tertawa... kau menangis... meringis. perih.. ngeri...
Posted by Christopher PS ketika 8/08/2009 10:41:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja derai nafas tanpa kasih-kasihan
Sabtu, Agustus 1
Lagi-lagi... Takdir... Aku senantiasa bersujud...
aku dan dia.
tak sedikit similaritas. mungkin tak beda asa. dia pemimpi, akupun tak pernah lupa bermimpi. dia menulis. yang saat ini tengah kugenapi.
ibuku jelas berbeda dengannya. Kami melihat bumi dari rahim yang berbeda. Darah kami tak pernah bersatu. Pernah mungkin ia singgah. entah dimana. Jelaslah kutarik kesimpulan, bahwa kami bukan kembar.
Namun kami sehati.
tunggu...
Sehati...
lagi-lagi...
sejenak kulihat gambar wajahnya yang ia ukir sendiri.
tak kusangka.
Tiada jauh denganku.
Apa ini lukisan sebuah takdir?
api yang berkibar... aku hanya ingin sebuah jawaban.
Benarkah dirinya...?
apa pantas aku ini...
musim hujan nanti...
kau kutunggu...
hingga akhirnya...
Posted by Christopher PS ketika 8/01/2009 10:13:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja Tak Kusangka
Tak kusangka
Tak kusangka.
lagi-lagi ini terjadi.
telah kuucapkan lagi.
namun terlalu besar letihku.
dia, kembali kuingat.
terus dan terus saja.
tanpa dosa dan doa.
aku lagi yang menuainya.
Posted by Christopher PS ketika 8/01/2009 09:50:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja Tak Kusangka
Selasa, Juni 30
Semangat, Tatih, Enggan, Pilu, Hampa, Angan, Naungan, Iba, dan Eloknya
Sudahlah…
Nubuatnya akan lekas kau genapi.
Tiada perlu ada sejuta ragu
Jelas dari pada kau merah padam
Menelan tawa sang dewa dewi…
Di depan bukan matamu berada?
Jangan biar hujan turun mereda…
Namun ku tahu kau akan berbeda
Lihat, kegagalanmu sungguh tiada
Tiada kah kau ingat
Saat kau berselubung penat?
Meski tak henti sabungan mendekat
Ingat, selempangmu ku gantungkan semangat
Bila hari itu tiba
Jangan coba kau semai setitik iba
Kenangan bukan kemarau yang kau raba
Kugiring hari-hari semi itu dengan tart dan peach melba
Biar manis harimu lepas
Melepas kelu bak tujuh kapas
Cerah bulan purnama kan menghempas
Hingga tiba hadirnya,
Ia kan memikul kuk dan dosamu
Tanah kanaan
Tanah yang dijanjikannya
Mari bersamaku
Kita renggut musim semi yang hilang
Tiada ada kata teranja-anja
Terlebih pada naungan maut yang kian singgah
Posted by Christopher PS ketika 6/30/2009 11:53:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja Tak Kusangka
Kelindan neraka (Seberkas sumpah)
Di balik tirai penghujam
Aku akan tetap menghantam
Kalanya aku berjubah hitam
Mungkin akan kubawa kelindan tajam
Menggenggam tampikan setan;
Langkah ini hanya jeritan
Jerit detak jantung tak rentan
Tak lagi untuk jiwa berperan
Kau disana lihati aku
Membikin hasrat yang terpaku
Bahwa engkau tahu ini aku
Hingga di sana terbujurlah aku
Takkan bisa kau kini
Dekati waktuku yang sembunyi
Kenapa kau terus membenci
mungkin kenyataan tak bernyanyi
bernyanyi di tunggak benakmu
goyah hikmat yang bertamu
Selama kau tak bertemu
Matahari di kala semu
Sebentar kau akan mampus
Aku pun tak akan menghapus
Abu siksaan yang terjangku terus
Diam dan tunggu masamu pupus
Kala itu aku berteriak
Air pun takut beriak
Tat kala setan sempat memihak
Di bahu tanjung bersorak
Nafas tinggal ampas
Tak hanya setebal kapas
Sirna itu tak pernah lepas
Meski sudah coba kau hempas
Hahaha kini tertawa
Melihat sosokmu dibawa
Dibawa terbang menembus hawa
Tunggu aku hingga nanti tua
Aku akan menyusul ke neraka
Menggenggam arti sebuah angan murka
Jangan harap bisa kau terka;
Melihat matimu penuh sirat luka
Posted by Christopher PS ketika 6/30/2009 11:49:00 PM 0 comments
Minggu, Juni 28
Rindumu, Sang Bulan ep 2
Fajar amat murni dan rapuh singgahsana gulung-gulung awan sebelum diamuk sinar mentari. Keduanya saling bertepi, matahari dan bulan. Bertatap dalam kesunyian ombak. namun tiada sempat ada petikan kata, terik tlah ada. menepis harum lembayung senja.
"Wahai gulung2 awan, biar kau yang jadi saksi. saksi keabadian cinta. Hati tak hangus terbakar meski penat tubuhku. Adalah mustahil bagiku bersua kembali." isak tangis matahari, dalam aduannya pada gulungan awan.
gema, desah awan berkata "Tiadakah kau tahu akan gerhana..."
meski tak tampak, palungan matahari tiada berperi melucuti keagungan Gerhana...
"bahkan itu tak kunanti selama 400 tahun" riang gembira naungan mentari. siang itu... besar rindunya pada rembulan. bulat tekad nya bercumbu dengan dewa malam...
"Bila kau tahu, aku pun tiada kau kenal pasti... rasanya jadi sang dewi... berjubah api, memikul lentera. Menorehkan canda tawa. Kau hanya awan bergulung demi keagunganku."
liku-liku awan bercerita. hingga malam tiba 100 tahun tlah usai. Dewa malam, halus parasnya, namun tegar bahasa senubarinya. dalam lingkar sinarnya bertampik. lekatnya Rembulan bercurah hati pada sang ombak.
"Kau tahu dewi lentera... tiadakah ada rindu di hatinya? ku selalu tunggu derai asmaranya. berkabung dalam kesunyian tiap siang. Dewi Lentera, dia yang kuinginkan. aku terlalu sunyi. diam tanpa seberkas cahaya."
"Tanyalah pada awan saat senja. mereka mengerti perasaan sang mentari. bahkan saat menjadi bola emas di penghujung senja." derai ombak tlah berkata...
"Tiada mungkin bagiku. Andai bintanglah saksinya... awan tak kan kulihat tiap malam. terlebih Mentari. Takdirku belum berpihak."
"Oh bulan, tiada kah kau tahu tentang gerhana... saat takdirmu berpihak. di sanalah kau bercumbu dengan sinarnya." Jawab deruan yang menyongsong, menggapai cakrawala. letih ia berlari. kesana-kemari. bibir pantai selalu menjadi dermaga baginya.
Posted by Christopher PS ketika 6/28/2009 01:00:00 AM 0 comments
Labels: hari ini saja Kisah kini dan selamanya
Cinta itu Bukan Dermaga
Blia nanti kujumpa bintang
Izinkan aku,
Menitih buih buih prosa
Yang telah penat menunggu untuk kau baca
Cinta itu, bukan dirimu
Cinta itu, bukan bintang
Cinta itu, bukan mimpi
Cinta itu, bukan prosa dan puisi
Cinta itu, bukan piano
Gusar mencumbu baying-bayang angin
Berdiri tegak di atas
Mencoba menyaksikan jiwa mu yang lelah terjaga
Indah ini hari kusangka-sangka
Tapi itu tak akan benar adanya
Pedih perih masih saja memikul hidungmu
Paham sudah aku
Setiap jarum-jarum yang menari
Dalam teluk hatimu
Cinta itu, bukan baju bergaris hitam
Cinta itu, bukan tepian angan senubari
Sembari berkata : “ketika sang hujan lelah berdiri
Bahkan anginpun berpelukan
Dengan mimpi alam
Ketika bulan tak lagi
Tergila wewangi mawar
Di sana aku menanti
Bersama waktu yang menghujam
Dari dinding awan nun jauh di syurga”
Pernah kah kau tahu,
Dalam ukiran emas aku terbaring
Meski kini rasa itu penuh karat
Namun tak akan pudar seutuhnya
Dari punggungku.
Lihat, dua orang anak
Tak hentinya menyebut nama rakuen
Ya…..
Tempat kita bertemu nanti…
Rakuen…
Posted by Christopher PS ketika 6/28/2009 12:57:00 AM 1 comments
Labels: hari ini saja Tak Kusangka
Minggu, Juni 21
Rindumu sang bulan ep 1
matahari. andai bulan jatuh cinta padanya. apa bisa dibuatnya?
meski tak jarang bertikai mereka itu. Namun bulan mengadu. ingin nya bahagia bersama mentari.
"wahai Ombak benarkan asa ku untuknya, biar kau yang menikungi takdirku, lingkari sembari kau berlari ke bibir pantai"
deru sempurna enggan hiraukan bulan yang bertanya. "biar lah kau temui lagi keelokan itu. fajar sudah menaruh seberkas sinarnya padaku" rintih ombak berbincang pada bulan
"namun hanya saat fajar dan senja lah tempat ku bertemunya. ia di timur, aku di barat. tuh lihat, sudah hampir menghampiri aku"
Bulan tiada pernah tahu akan rasanya membakar siang hari. tak di temani bintang. hanya gulung2 awan yang risih kan hari hujan. begitulah yang mendekap dalam gelora api mentari.
"Lelah malam mu? indah pasti bulan yang kau gantungkan bersamamu" singgung mentari pada tepi bulan yang tenggelam....
"iri daku padamu, suatu hari, ingin ku bisa bergantung bersamamu bulan. menitih bintang yang ada bersamamu selalu"
"semua akan datang bila takdirku tlah tiba dalam sisi."
lekaslah bulan tenggelam. mengarungi alam lain tanpa mentari. entah bilamana takdir menghampirinya, memeluk dengan segenap hatinya...
Posted by Christopher PS ketika 6/21/2009 10:55:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja Kisah kini dan selamanya
Jumat, Juni 5
Rin, Pianis di Pentas, lalu Aku
denting2 biduan gelas yang beradu. hangat lilin putih di hadap hidungmu. bahkan tak samapai pula aku menggapai tiang harga dirinya. Pandangnya lurus kaku. ke atas kening pianis yang sembari memahat pentas. bola mata -punyaku yang bundar dan hitam- tiada hentinya bercermin pada kilap gincu bibir yang pernah kubelikan sebagai hadiah ulang tahun mu -yang entah lupa aku kau umur berapa-
"lihat aku"
"sudah kian kali kulihat"
"kurang menarikkah aku di dalam deru alur mu?"
"(terdiam dalam sepi mencekam)"
"Boleh kulihat senyum mu? gincu bibir itu pemberian ku bukan"
"sudahkah kau menitih kejenuhanku?"
keringat di tepi kuku sang pianis. mungkin buta sudah senuari Rin. ditusuk 12 kali oleh jemarinya. bisu rupanya aku dibuatnya. Hingga ia tiada sadar bahwa aku berada di depan sudut dadanya.
"aku Pulangkah yang kau inginkan?"
"itu menjadi pilihan mu. aku ingin tetap memandangnya"
"mengapa tidak ada aku tertoreh di sana? di sana!"
kutunjuk buah dadanya. melambangkan hati yang terpendam dalam. bahkan jauh di dalam angannya ia selimuti.
"penat sudah aku dengan tawa palsumu"
"Tawa palsu, bukanlah itu. tak beda bukan dengan yang di atas pentas?"
jujur, acap kali aku terhangus cemburu dengan sang pianis. tak lain ia adalah bekas pacar Rin...mahirnya ia, mengitari sudut hati Rin
lihat, lampu sorot sudah mulai redup. doaku hampir saja terkabul. derai applause pula yang memenuhi ruang kini.
"Boleh kau antar aku pulang"
"tiada aku punya alasan lagi tuk bilang tidak"
"bagus. sebab berahiku memuncak sekarang. jangan segan bersamaku"
"Astaga Tuhan!!" makin ku cinta, makin enggan aku mengerti lagi isi benaknya. mungkin kering sudah isinya. tak hujan-hujan meski kutunggu
Posted by Christopher PS ketika 6/05/2009 01:02:00 AM 0 comments
Labels: hari ini saja Kisah kini dan selamanya
Rabu, Juni 3
Kikisan tiap Senja
belenggu yang tipikal... terkadang aku berfikir akan musnah.
hening yang absolut... sering kali aku terbuai. tak kecuali saat matahari terbenam
lamunan senja, dendang cakrawala.
senja... ruang diam hadirku.
Posted by Christopher PS ketika 6/03/2009 05:13:00 PM 0 comments
Minggu, Mei 17
21 kehidupan yang pernah singgah
1
Kehidupan adalah senandung senja
Yang tak ada waktu keabadiannya
2
Kehidupan adalah mimpi
Yang terlalu nyata untuk dilupakan
3
Kehidupan adalaha sastra
Yang tiada bertitik serta berujung
4
Kehidupan adalah tuaian
Dari yang telah ditaburkan
5
Kehidupan adalah deru
Yang hambar dikoyak angin dan hujan
6
Kehidupan adalah palungan batin
Yang menelan setiap butiran kenangan
7
Kehidupan adalah persimpangan
Yang tiada terhitung jumlahnya
8
Kehidupan adalaha keabadian
Bagi setiap makhluk yang telah tercipta
9
Kehidupan adalah angan
Yang dilukis setiap malam dalam tidur
10
Kehidupan adalah jalan gelap
Yang menanti hadirnya cahaya
11
Kehidupan adalah cerita
Yang dititpkan angin malam hari
12
Kehdupan adalah lukisan
Yang tersirat dalam dinding syurga
13
Kehidupan adalah doa
Yang tengah kau panjatkan meski tiada pernah usai
14
Kehidupan adalah keheningan
Saat menentukan siapa sejujurnya takdir itu
15
Kehidupan adalah pena
Yang menulis cerita bahagia di dalamnya
16
Kehidupan adalah tikungan
Yang terus berada di ujung jalan setiap akhir sebuah kisah
17
Kehidupan adalah langit
Yang dapat memelihara bintang dan bulan serta mentari
18
Kehidupan adalah tangkai bunga
Yang mengadukan jenuhnya pada bunga di atas
19
Kehidupan adalah gunting besi
Yang memotong usia dalam waktu tak tentu
20
Kehidupan adalah sayap kupu-kupu
Yang bergeming indah sembari mensyukuri embun pagi
21
Kehdupan adalah dalam
Yang hanya kau yang empunya
Dan tiada pernah ada yang merangkulnya
Selain dirimu
Posted by Christopher PS ketika 5/17/2009 01:47:00 AM 1 comments


