BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Rabu, Desember 30

Haaaa...

di bawah garis lukisan cakrawala

gemuruh Sangkakala melengking tajam membisingkan

Lemah gemulai rerumputan rajangan

Liang pelita meruah absurd keabu-abuan

Lingkaran adagio merah muda

ditengahnya ada Gapura Jelitamu

Tak kusangka

Bayanganmu terus singgah

Tak kenal bila aku di surga adanya

Lihai benar kau ketuk Pintuku

Raguku beribu ruas

Senantiasa mengelami panorama kelabu

Sampaikan saat aku tiada

Kiranya tidak kau dongengkan lagi dosaku

Nyawaku selayang pandang

Senin, Desember 28

Raib...

Hening Biru Bulan tak henti mencari tahu...

Aduhai. siapa kawan ini... Kembang Platina, bagai mencari hatinya

Nila pasti warna hatinya... tak ingin kuragukan

Imaji pelangi... dimana letak kejenuhannya?

Elang pun tak henti mencari meski cuma serpih riwayatnya...

***

Hai, kamu yang sembari berlabuh

Aku tiada segan mencarikannya, mungkin ada di bawah liang tawa mentari

Ngarai nirwanakah isi hatimu?

Ilhamnya tak kunjung tiba, kamu tahu betul, bukan aku pencurinya

"Elok benar" itu yang kutahu tentangnya...

***

Hujan kepayang mulai lemas terjatuh

Adinda... dimana ditaruhnya hatimu?

Nestapa jangan lagi kau pikul, biar aku yang carikan...

Ibarat maut menitih - nitih dosa : dicari sampai palungan

Entah waktu pasti mati... aku tiada pernah jenuh melengah mencari... hatimu.

Selasa, Desember 22

Meski Jarang Ku Ucap.. Aku sayang Mama...

                                                                                             Hari Ibu...

ibu... kau yang biasa ku panggil “mama”

Detik ini… aku kah di hatimu?
Mungkin baru kuingat,
Tiap saat di lubuk hatimu aku berlutut

Ini hari… sejuta surat kasihku mulai tiba
Juga sejuta maafku…
“Mama… aku menyayangimu”
Mestinya kusebut berabad lalu
Namun sungguh itu yang kurasakan…
Mama, tiada pernah kau pinta kembali
Apa yang kau beri… itu lah tulus dari dalam hatimu
Jauh di dalam… tempat ditemukannya kasihmu padaku.

Mama pasti lelah kan…
Tirakatmu kau jaga
Menunggu kasihku yang entah tak kunjung tiba di benakmu
Memang aku ini anakmu, mama…
Namun kala aku bertumbuh
Rasa sayangku padamu,, kadang semakin pudar memutih
Entah aku memang durhaka…

Mama…
Ini hari… ingin aku lihat lekuk senyummu
Meski cuman sesaat saja…
Namun berarti bagiku…

Mengingat keringat jatuh di keningmu…
Di usiamu yang terlanjur senja…
Semoga “mama” …
Kelak menjalani hidup yang lebih bahagia…

Aku menangis…
Maafkan aku… dari sejuta dosa yang kutawarkan selalu.
Ingin sebentar saja aku peluk tubuh hingga kalbumu yang terdalam

“Mama…
Aku menyayangimu… tulus, tak ingin kupinta lagi darimu…
Karena ku tahu, kasihmu tiada berkesudahan…”

Jumat, Desember 18

Terlebih...

Kiranya keheningan menjulurkan bulu mata ke awang-awang pilunya. 

awal dari akhir yang tak berkesudahan...

kiranya tlah lama dimulaikan waktu...

bising, iblis-iblis kerdil tak mau melerainya.

terlebih...

bahkan jangan pernah jatuhkan pandangmu pada waktu.

enggan wajahnya berpaling walau saat matahari mengikis hari.

"ini kisah tentang rumput musim semi

hijau pekat penuh candu ceria

matahari terkantuk-kantuk... terbakar semu dunianya

pohon cemara lagi tidak lebat, 

padahal kukira ini desember...

jemari hujan harusnya menitih waktu

siang malam senantiasa bersaksi

                          satu..

                       dua...

                       tiga

                     empat...

                              lima...

                                  enam...

                                       tujuh.....

                                          delapan..

                                    sembilan..

                                         sepuluh..

                                                sebelas...

                                                      duabelas

                                        tigabelas

                            empatbelas...

tak terhingga " kau hitung hingga tak terhingga adanya...

bergelap gulita bagai malam tak ber-rembulan.

jenuh ku angka-angka semu ku sebut...

terus hingga tak terhingga...

tinggal abu dan gusar.. menyampulkan sejuta kerinduan..

Jumat, Desember 11

Kalau besok...?




wewangi lembayung senja... bunga... biaraku berbaring sejenak.memang kan hari ini hari terakhir di bumi pertiwi?
di pangkuan ibu...

di lingkar cincin Saturunus mulai tampak dari tempat pijak kakiku.

lurus tak ada tikungan, tanah-tanah menuju satu-satuan bintang.

dalam-dalam kau ukir di tanah
gurindam kesepian
"besok tiada lagi?" bagaikan rayu-rayu nyiur embun...

"Senja terakhir ya, lihat merpati sudah menari di rantai Cincin beku Saturnus.." Duh, entah remang cahaya di matamu sulit kutafsir dalam kitab. seperti sudah tertulis di rambutmu, sudah sejuta kali kau ucap. "cerita ini... telah tertulis di ruang riuh keabadian, nun jauh di sana, dimana entah aku temukan hatimu..."

langit mulai merona. waktu-waktu lalu, jangan kau toleh lagi... terlebih kau tunggu. Cuma letihkan manah, pentas manusia telah usai dibalik tirai merah. Tinggal tunduk hormat, gaduh kagum penuh sandiwara.

tiada punya waktu aku untuk mengantar asa kepada liang luka serupa palung rahim. waktu kini di genggam rama... kuasaku habis dirapuh sirik dan nafsu...

"Besok tiada lagi?" sejenak aku rindu peluk ibu, tapi dimana hendak kulepas?
"senja terakhir ini. tiada lama pun berlalu. lalu, tanpa sebersit penyesalan..."

Senin, Desember 7

Bukan...

yang kujanjikan ini bukan pelangi semu yang terkoyak saat hujan tlah usai...
aku menjadi kenyataan. memikul angin-angin mimpi pelukan.

aku bermimpi.. menjadi pria yang menjingjing berkas kehormatanmu.
berpegangkan medali perak, menaruh utuh nyawaku di bawah guyuran mentari
dalam sudut mata mu titik-titik fana telah kabur merantau...

segenap binasa kiranya kusisihkan...
mendayu tempat bagi keagungan
bagai sedang bersih-bersih permadani. Medan perang tidak sempit.

Bukanlah sesekali aku menepis badai gusar gelisah...



Sabtu, November 28

Duh, Adinda…

Secercah sinar di matanya 
Tak beda dengan mentari ketika fajar perlahan menyingsing.
Kulitnya teramat cerah, bagai langit yang tiada merindukan hadirnya hujan.
Ketika bibirnya ia lekukan, wajahnya tak segan berubah, 
berubah.. Semanis buah yang dikecap Hawa di taman Firdaus. 
Semerdu dawai-dawai harpa yang dipetikan Lucifer dahulu di nirwana,
Suara tiada jenuh-jenuhnya membuai daun telinga.

Alisnya.. tak tebal, tak tipis, bagai awan di langit kemarau.
Serasi dengan rambut ikalnya yang terlukis bagai jejak-jejak peluru hangat di udara.
Satu dua kali ia berlalu, harum semerbak menjadi buntutnya, seharum buah dudaim di malam perkawinan.

Jelita hatinya, terlukis dari lirih-lirih parasnya… Seperkasa ksatria nyalinya, 
Sehalus permaisiuri manjanya.
Sosok jelita itu perlahan,, perlahan menuai penatku…

Namun telah penuh terisi hatinya.
Tiada ruang tersisa.
Bagaikan kotak harta karun… isinya tiada kentara
Bahkan sudut hatinya tak kenal sedikitpun kekosongan.
Yah…
Kini berharap saja yang ku perbuat…
Hatinya dipenuhi kebahagian yang kekal abadi...

Rabu, November 18

Komet malam ini...

komet malam ini tak kan datang meski kamu tunggu. terlebih kamu pajang terus wajah murungmu itu.

Komet itu datang, dengan memberikan keindahan... namun tak hanyalah itu tujuannya...
bagaikan hatimu... Ia juga menulusuri jagat raya... mencari keindahan yang kekal.

jangan sekali-sekali kamu berharap..
komet akan membelah langit malammu dari timur ke barat daya.

pejamkan matamu satu kali saja. coba terka lubuk hatimu yang terdalam...
di dalam sanalah secercah keindahan senantiasa berdiam di dalam keagungannya.

lubuk hatimu yang benderang melambangkan kesucian murni kekal adanya.
adinda... jangan kau tunggu komet malam ini... tak kan tiba hadirnya meski kau tunggu...

karena komet itu... datang dengan memberikan keindahan... namun tak hanyalah itu tujuannya...
bagaikan hatimu... Ia juga menulusuri jagat raya... mencari keindahan yang kekal.

Senin, November 16

조용함... [dalam untaian kronologis]

dikepung hujan...

sendiri, dalam kelamnya raungan sepi.

"teruslah kamu menangis. aku akan berada di sebelahmu.
kalau kamu sudah rasakan hangatnya hatiku...

aku mohon berhentilah menangis..
tapi kalau belum, aku tak akan segan memberi setiap kasihku padamu."

dalam sunyi yang tengah waktu janjikan

"kamu akan kupeluk erat. hingga kau rasa, ada lilin yang menyala di dalamku.
sesekali kukecup keningmu. lalu kupandang wajahmu dalam-dalam. sembari ku genggam kedua belah pipimu yang terbelah air matamu.

lalu kamu kupeluk kembali. kupegang punukmu, mendorong kepalamu ke atas bahuku.
perlahan ku lepas pelukku, kutatap lagi wajahmu dalam. dalam...
bahkan kamu tak akan bisa mengerti... "

Dalam keheningan yang erat...

"kukatakan sejuta kali rangkaian kata -sungguh aku menyayangimu-
yang tlah kujanjikan padamu, bahwa rasa itu tak pernah pudar.
dan kamu pun tak hentinya menangis. Penuh haru dan kebimbangan. lalu kupeluk kembali untuk ketiga kalinya, tubuhmu itu.

dalam dekapku kubacakan syair-syair kesukaanmu. lagu-lagu kesukaanmu kudendangkan.
perlahan kamu berhenti menangis. dan kutatap wajahmu yang mungil.
ingin rasanya ku kecup bibirmu yang merah. bolehkah?"

kau anggukan kepalamu. sesaat kau penjamkan matamu.

"aku lakukan ini sangat perlahan. penuh kesabaran namun tak ragu. perlahan...
...

bibirku mulai menyentuh bibirmu. dingin sekali. kamu bagai habis makan ice cream. tapi untuk itulah aku telah hadir. memberi kehangatan padamu.
Rasa ciuman ini, kian lama terasa hangat kan? kamu terus pejamkan matamu. penuh kesabaran sembari perlahan tanganku memegang lekuk tubuhmu. dan bibir ku mulai lah menyentuh dagu hingga lehermu."

Lemah lembut sekali kau menyudahi kemesraan ini. pedih dan perih dan luka dan tangis dan bimbang habis sudah kukecup.

"kamu jangan bersedih lagi. aku akan ada di sampingmu. memegang erat tangan serta hatimu..."

Tenderly..

in this moment, can i bring you a lovely kiss?
even just for once, i'll promise to you it won't fade in your memories.

or..
i'll ask you something deeper than the ocean...

in this moment, can i still love you?
because your eyes give me no mercy.

in this moment, can i be the only one?
just once, i'll hold you closely
than i'll stroke your cheek... take you to the leap of faith.

Sabtu, November 14

...

yang kau butuhkan bukan petunjuk
juga bukan diriku...
tetapi waktu.

terkadang pun aku tiada mengerti

bahwa penyesalan datang bukan karena kesalahan
terlebih kegagalan.

Melainkan KEKTAKUTAN dalam diri seseorang

dan kesakitan ada bukan karena ditinggal
atau pengkhianatan
melainkan ada karena tak adanya pengertian mendalam
dalam sebuah kisah.

kematian bukan berarti kepergian
bukan juga ujung sebuah perjalanan hidup

kematian adalah akhiran semu dalam proses yang kita
tempuh. tak akan kembali, namun tak akan pernah usai
juga.

Minggu, Oktober 25

Sketsa kehidupan aku lukis...

. . . _ . _ . _ . . . . _ _ . _ . . . . . . . _ . . . . _ . _ _ . . _ _ . . _ _ . _ . . _ . _ . . . . _ _ . _ . . . . .





Minggu, September 20

Kantuk..

renda putih berbunga kau kenakan terus. Penghujung gaun merah berbunga, yang selalu cocok buat lekuk keindahan... 

oh kasih.... aku kembali...

kembali dalam kelabu...

untuk ke dua kali, kekasih...

sempurna bundar bulan purnama...

Semburat gemilang di akhir labuhan...

kutikan awan tiada putus asanya...

menelan mari manis buat genapi rantai perkasihan itu....

ahhhh. Gelap...aku rindu cahaya..

Rabu, September 16

Ku Sebut...

Buat Pak Aldo

Kepergian, tiada pernah kausebut akhir…
Kepergian, tak pernah jadi terlalu dini…
Kepergian, tiada pernah aku sebut perpisahan…

Kepergian, bukanlah sebuah paksaan
Hanya saja, ialah takdir yang tiada pernah terelakan…

Kepergian…
Tak kau singgung satu inci jarak…
Tak kau dendang satu biduan pun…

tiada lagi kisah yang terperi
hanya lirih kenangan…

dalam kemerduan isak tangis penuh kelu…
kau pandang senja mulai membiru…
Senja terakhir…
Ketika bukan lagi kunamai langit sore…

Kepergian, pernah kau sebut-sebut…
Mula dari sebuah kerinduan…


Bila kau tiba di sana,
Kiranya aku menetap dalam kalbumu…

Biar kisah ini…
Kekal abadi… sesekali kau toleh…

Kepergian, tak pernah jadi terlalu dini…

Namun…
Memang terlalu dini…
Terlalu dini…

6
“Kehidupan adalah palungan batin
Yang menelan setiap butiran kenangan”



Jumat, Agustus 28

Bilur


ruang itu sempit. tempat kunanti juita malam, 

Sisihkan larik buat adinda. 
Merah Delima, hari malam jelas tiada tertera.
Rembulan berbilur sinar, abadi adanya.
Pantulnya rabun rauh mulia.

Tembus terus sinarnya
Bak kenur tembus tujuh pelita
Aduh, kekasihku teluk masih belum terlihat
Burung pungguk bernyanyi, dendang, asa berliat

“Adinda, 
Aku ladang permata 
Di tikungan Dusun hati adinda
O, cerca kau lontar. Dikoyak ara.”

 Kuasamu, adinda, beratus tulah
Terbaring lelap aku rasa
Adinda…
Mentari mengumbar tengkuk gunung hangat senantiasa.
Hari tinggal seberkas tulah

Ruang itu sempit. Tempat kunanti juita malam,

Minggu, Agustus 23

Langit T'lah biru

Mari kawan
Lenganku telah putus.
Simbahan darah, lekaslah kita pulang.

Sabtu, Agustus 22

By Myself [english translation]

please, just pass by pretending like you don't see me
please, don't even give me a glance
in the days that are like the sandy winds
don't give anything to me

folding away my one heart
hiding my one tear
like it's the first time we've seen each other, like we're strangers
just pass by. it has to be like that.

by myself, i say my love, send away my love
in the folds of the lonely accumulated memories, the tears hang

even if you're far away, i hope that you'll be happy
i bury my love deeply within my heart

in the next world, when we are born
then, we'll look at each other face to face
let's be born so that we don't lose weakly in front of fate again

so that i may be a flower in front of you
i'll sing a song for you
as one's girl, as one man's lover
i want to always live by your side

by myself, i say my love, send away my love
in the folds of the lonely accumulated memories, the tears hang

even if you're far away, i hope that you'll be happy
my love, deeply within my heart...

though it hurts, though it will hurt, i will never cry
because there is no such thing as farewell in my love

when this life ends, in the next world, us two
let's love, for sure. let's love, for sure.
us two.


Sabtu, Agustus 15

Harus Bagaimana...

Harus Bagaimana?
Kehidupan selanjutnya…
Dia tetap Cinta pertama
Meski aku sebatang pohon nantinya…
Tak kan berubah dirinya

Kala aku tertidur..
Dalam pelukan musim dingin kelak aku berjanji
Cinta Kasih tak kan pudar dalam tiap tepi rantingku
Dia yang berlalu di mata, tak kan berlalu dalam benak

Kalau-kalau ia panggil daku
Harus bagaimana?

Kalau-kalau ada rindu hatinya
Harus bagaimana?

Tak kuasa. Tak pernah kuasa.
Lelahnya, dihinggapi rasa rindunya
Harus bagaimana?

Cinta pertama… selamanya kan?
Tak kan pudar. Tak kan meski telah 
Kau cuci dengan guratan dosamu.
Cinta pertama… 
Tak pernah pudar…

Aku terlanjur…
Namun tak ada sesalku berkulai.
Sbab lurus kaku jalanku mencintainya.
Tak bercabang terlebih tikungan.

Dia saja. tak ada inginku yang lain.
Dia saja.
Cinta pertama
Kalau-kalau aku tertidur…
Tak tentu terjaga kembali…
Hilangkah senyumnya?
Harus bagaimana?

Ia yang di sana... kalau-kalau namaku disebutnya..





Harus bagaimana?

Sabtu, Agustus 8

Masa aku?? Yang Benar Saja...


Kumulai denganmu…
Bagai perekat…
Palu itu kau beri
Saat kulit tak lagi kau terka…
Biar lidahku yang menuai liurmu…
                     Lihat… liurmu hampir menetes
                      Mari… biar keagungan lirih, 
                       Nafsu perianganmu menyambar tak henti
                       Lekas-lekas kujala. Hingga nanti kita bersua di ranjang
                     Tapi jangan sekalipun lirik hati punyaku. Tak baik adanya perlakuan itu
Biar kusingsingkan aroma itu. ku buat sirna apa yang kau pakai
  Biarkan sekali aku melolong… kau diam saja, terima…
 Toh aku tak pernah kaberatan… kenapa juga kau?
  Lekas kau riakan jeratan rambut kecil
Aku pun tak pernah meminta, pedulikah kau anjing pada melolong?
Biar semua mati… aku tak pernah perduli… kenapa juga kau?

                                                  Mari… tarianku belumlah usai. 
                                      Harap saja kau tak hilang birahi. 
                           Jangan peduli laut gusar. Ombaknya serupa tarian kita.
                  Tak henti tak lelah.

Memang raga di sini. Namun entah fikiran hilangnya…
jangan ditunggu,[nanti malah tak sungkan datang]
Janji saja kali ini… bila ada buah terkulai… jangan segan kau petik .
Berilah nama Arjuna. Bagai apa yang Mertuamu punya mimpi  
Biar ia berkalana seperti aku. Tak sendiri.
Minta lah Nafsunya memeluknya. 
Kau tahu fikirannya. Teluk-teluk laknat dan mantra yang ia telan…
     Ya… Arjuna saja namanya..