Secercah sinar di matanya
Tak beda dengan mentari ketika fajar perlahan menyingsing.
Kulitnya teramat cerah, bagai langit yang tiada merindukan hadirnya hujan.
Ketika bibirnya ia lekukan, wajahnya tak segan berubah,
berubah.. Semanis buah yang dikecap Hawa di taman Firdaus.
Semerdu dawai-dawai harpa yang dipetikan Lucifer dahulu di nirwana,
Suara tiada jenuh-jenuhnya membuai daun telinga.
Alisnya.. tak tebal, tak tipis, bagai awan di langit kemarau.
Serasi dengan rambut ikalnya yang terlukis bagai jejak-jejak peluru hangat di udara.
Satu dua kali ia berlalu, harum semerbak menjadi buntutnya, seharum buah dudaim di malam perkawinan.
Jelita hatinya, terlukis dari lirih-lirih parasnya… Seperkasa ksatria nyalinya,
Sehalus permaisiuri manjanya.
Sosok jelita itu perlahan,, perlahan menuai penatku…
Namun telah penuh terisi hatinya.
Tiada ruang tersisa.
Bagaikan kotak harta karun… isinya tiada kentara
Bahkan sudut hatinya tak kenal sedikitpun kekosongan.
Yah…
Kini berharap saja yang ku perbuat…
Hatinya dipenuhi kebahagian yang kekal abadi...
Sabtu, November 28
Duh, Adinda…
Posted by Christopher PS ketika 11/28/2009 02:44:00 AM 0 comments
Labels: hari ini saja Tak Kusangka
Rabu, November 18
Komet malam ini...
komet malam ini tak kan datang meski kamu tunggu. terlebih kamu pajang terus wajah murungmu itu.
Posted by Christopher PS ketika 11/18/2009 11:53:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja Permukaan udara...
Senin, November 16
조용함... [dalam untaian kronologis]
dikepung hujan...
Posted by Christopher PS ketika 11/16/2009 09:52:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja Permukaan udara...
Tenderly..
Posted by Christopher PS ketika 11/16/2009 09:39:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja Permukaan udara...
Sabtu, November 14
...
Posted by Christopher PS ketika 11/14/2009 12:43:00 AM 0 comments
Minggu, Oktober 25
Sketsa kehidupan aku lukis...
. . . _ . _ . _ . . . . _ _ . _ . . . . . . . _ . . . . _ . _ _ . . _ _ . . _ _ . _ . . _ . _ . . . . _ _ . _ . . . . .
Posted by Christopher PS ketika 10/25/2009 09:42:00 PM 0 comments
Minggu, September 20
Kantuk..
renda putih berbunga kau kenakan terus. Penghujung gaun merah berbunga, yang selalu cocok buat lekuk keindahan...
oh kasih.... aku kembali...
kembali dalam kelabu...
untuk ke dua kali, kekasih...
sempurna bundar bulan purnama...
Semburat gemilang di akhir labuhan...
kutikan awan tiada putus asanya...
menelan mari manis buat genapi rantai perkasihan itu....
ahhhh. Gelap...aku rindu cahaya..
Posted by Christopher PS ketika 9/20/2009 12:28:00 AM 0 comments
Labels: hari ini saja derai nafas tanpa kasih-kasihan
Rabu, September 16
Ku Sebut...
Buat Pak Aldo
Kepergian, tiada pernah kausebut akhir…
Kepergian, tak pernah jadi terlalu dini…
Kepergian, tiada pernah aku sebut perpisahan…
Kepergian, bukanlah sebuah paksaan
Hanya saja, ialah takdir yang tiada pernah terelakan…
Kepergian…
Tak kau singgung satu inci jarak…
Tak kau dendang satu biduan pun…
tiada lagi kisah yang terperi
hanya lirih kenangan…
dalam kemerduan isak tangis penuh kelu…
kau pandang senja mulai membiru…
Senja terakhir…
Ketika bukan lagi kunamai langit sore…
Kepergian, pernah kau sebut-sebut…
Mula dari sebuah kerinduan…
Bila kau tiba di sana,
Kiranya aku menetap dalam kalbumu…
Biar kisah ini…
Kekal abadi… sesekali kau toleh…
Kepergian, tak pernah jadi terlalu dini…
Namun…
Memang terlalu dini…
Terlalu dini…
6
“Kehidupan adalah palungan batin
Yang menelan setiap butiran kenangan”
Posted by Christopher PS ketika 9/16/2009 10:15:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja derai nafas tanpa kasih-kasihan
Jumat, Agustus 28
Bilur

ruang itu sempit. tempat kunanti juita malam,
Sisihkan larik buat adinda.
Merah Delima, hari malam jelas tiada tertera.
Rembulan berbilur sinar, abadi adanya.
Pantulnya rabun rauh mulia.
Tembus terus sinarnya
Bak kenur tembus tujuh pelita
Aduh, kekasihku teluk masih belum terlihat
Burung pungguk bernyanyi, dendang, asa berliat
“Adinda,
Aku ladang permata
Di tikungan Dusun hati adinda
O, cerca kau lontar. Dikoyak ara.”
Kuasamu, adinda, beratus tulah
Terbaring lelap aku rasa
Adinda…
Mentari mengumbar tengkuk gunung hangat senantiasa.
Hari tinggal seberkas tulah
Ruang itu sempit. Tempat kunanti juita malam,
Posted by Christopher PS ketika 8/28/2009 09:44:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja Tak Kusangka
Minggu, Agustus 23
Langit T'lah biru
Mari kawan
Lenganku telah putus.
Simbahan darah, lekaslah kita pulang.
Posted by Christopher PS ketika 8/23/2009 02:05:00 AM 0 comments
Sabtu, Agustus 22
By Myself [english translation]
please, don't even give me a glance
in the days that are like the sandy winds
don't give anything to me
folding away my one heart
hiding my one tear
like it's the first time we've seen each other, like we're strangers
just pass by. it has to be like that.
by myself, i say my love, send away my love
in the folds of the lonely accumulated memories, the tears hang
even if you're far away, i hope that you'll be happy
i bury my love deeply within my heart
in the next world, when we are born
then, we'll look at each other face to face
let's be born so that we don't lose weakly in front of fate again
so that i may be a flower in front of you
i'll sing a song for you
as one's girl, as one man's lover
i want to always live by your side
by myself, i say my love, send away my love
in the folds of the lonely accumulated memories, the tears hang
even if you're far away, i hope that you'll be happy
my love, deeply within my heart...
though it hurts, though it will hurt, i will never cry
because there is no such thing as farewell in my love
when this life ends, in the next world, us two
let's love, for sure. let's love, for sure.
us two.
Posted by Christopher PS ketika 8/22/2009 11:06:00 PM 0 comments
Sabtu, Agustus 15
Harus Bagaimana...
Kehidupan selanjutnya…
Dia tetap Cinta pertama
Meski aku sebatang pohon nantinya…
Tak kan berubah dirinya
Kala aku tertidur..
Dalam pelukan musim dingin kelak aku berjanji
Cinta Kasih tak kan pudar dalam tiap tepi rantingku
Dia yang berlalu di mata, tak kan berlalu dalam benak
Kalau-kalau ia panggil daku
Harus bagaimana?
Kalau-kalau ada rindu hatinya
Harus bagaimana?
Tak kuasa. Tak pernah kuasa.
Lelahnya, dihinggapi rasa rindunya
Harus bagaimana?
Cinta pertama… selamanya kan?
Tak kan pudar. Tak kan meski telah
Kau cuci dengan guratan dosamu.
Cinta pertama…
Tak pernah pudar…
Aku terlanjur…
Namun tak ada sesalku berkulai.
Sbab lurus kaku jalanku mencintainya.
Tak bercabang terlebih tikungan.
Dia saja. tak ada inginku yang lain.
Dia saja.
Cinta pertama
Kalau-kalau aku tertidur…
Tak tentu terjaga kembali…
Hilangkah senyumnya?
Harus bagaimana?
Ia yang di sana... kalau-kalau namaku disebutnya..
…
Harus bagaimana?
Posted by Christopher PS ketika 8/15/2009 09:13:00 PM 0 comments
Sabtu, Agustus 8
Masa aku?? Yang Benar Saja...
Bagai perekat…
Palu itu kau beri
Saat kulit tak lagi kau terka…
Biar lidahku yang menuai liurmu…
Lihat… liurmu hampir menetes
Mari… biar keagungan lirih,
Nafsu perianganmu menyambar tak henti
Lekas-lekas kujala. Hingga nanti kita bersua di ranjang
Tapi jangan sekalipun lirik hati punyaku. Tak baik adanya perlakuan itu
Biar kusingsingkan aroma itu. ku buat sirna apa yang kau pakai
Biarkan sekali aku melolong… kau diam saja, terima…
Toh aku tak pernah kaberatan… kenapa juga kau?
Lekas kau riakan jeratan rambut kecil
Aku pun tak pernah meminta, pedulikah kau anjing pada melolong?
Biar semua mati… aku tak pernah perduli… kenapa juga kau?
Mari… tarianku belumlah usai.
Harap saja kau tak hilang birahi.
Jangan peduli laut gusar. Ombaknya serupa tarian kita.
Tak henti tak lelah.
Memang raga di sini. Namun entah fikiran hilangnya…
Janji saja kali ini… bila ada buah terkulai… jangan segan kau petik .
Berilah nama Arjuna. Bagai apa yang Mertuamu punya mimpi
Biar ia berkalana seperti aku. Tak sendiri.
Minta lah Nafsunya memeluknya.
Kau tahu fikirannya. Teluk-teluk laknat dan mantra yang ia telan…
Ya… Arjuna saja namanya..
Posted by Christopher PS ketika 8/08/2009 10:56:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja Tak Kusangka
Lihat! Daun kini...
Hiraukan lebah bersenandung...
Seruan wewangi matahari...
Kamu yang nikmati - Toh, hanyalah duduk menuai senja aku ini...
Kau yang menari... Rumput tlah enggan menunggu titik- titik kakimu...
"Lihat.. daun sudah merah warnanya.
Bau hujan tiada lagi ragu merebak."
jatuh... jatuh lagi... lagi... tak henti...
kau tertawa. aku menangis. meringis. sakit...
atau aku yang tertawa... kau menangis... meringis. perih.. ngeri...
Posted by Christopher PS ketika 8/08/2009 10:41:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja derai nafas tanpa kasih-kasihan
Sabtu, Agustus 1
Lagi-lagi... Takdir... Aku senantiasa bersujud...
aku dan dia.
tak sedikit similaritas. mungkin tak beda asa. dia pemimpi, akupun tak pernah lupa bermimpi. dia menulis. yang saat ini tengah kugenapi.
ibuku jelas berbeda dengannya. Kami melihat bumi dari rahim yang berbeda. Darah kami tak pernah bersatu. Pernah mungkin ia singgah. entah dimana. Jelaslah kutarik kesimpulan, bahwa kami bukan kembar.
Namun kami sehati.
tunggu...
Sehati...
lagi-lagi...
sejenak kulihat gambar wajahnya yang ia ukir sendiri.
tak kusangka.
Tiada jauh denganku.
Apa ini lukisan sebuah takdir?
api yang berkibar... aku hanya ingin sebuah jawaban.
Benarkah dirinya...?
apa pantas aku ini...
musim hujan nanti...
kau kutunggu...
hingga akhirnya...
Posted by Christopher PS ketika 8/01/2009 10:13:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja Tak Kusangka
Tak kusangka
Tak kusangka.
lagi-lagi ini terjadi.
telah kuucapkan lagi.
namun terlalu besar letihku.
dia, kembali kuingat.
terus dan terus saja.
tanpa dosa dan doa.
aku lagi yang menuainya.
Posted by Christopher PS ketika 8/01/2009 09:50:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja Tak Kusangka
Selasa, Juni 30
Semangat, Tatih, Enggan, Pilu, Hampa, Angan, Naungan, Iba, dan Eloknya
Sudahlah…
Nubuatnya akan lekas kau genapi.
Tiada perlu ada sejuta ragu
Jelas dari pada kau merah padam
Menelan tawa sang dewa dewi…
Di depan bukan matamu berada?
Jangan biar hujan turun mereda…
Namun ku tahu kau akan berbeda
Lihat, kegagalanmu sungguh tiada
Tiada kah kau ingat
Saat kau berselubung penat?
Meski tak henti sabungan mendekat
Ingat, selempangmu ku gantungkan semangat
Bila hari itu tiba
Jangan coba kau semai setitik iba
Kenangan bukan kemarau yang kau raba
Kugiring hari-hari semi itu dengan tart dan peach melba
Biar manis harimu lepas
Melepas kelu bak tujuh kapas
Cerah bulan purnama kan menghempas
Hingga tiba hadirnya,
Ia kan memikul kuk dan dosamu
Tanah kanaan
Tanah yang dijanjikannya
Mari bersamaku
Kita renggut musim semi yang hilang
Tiada ada kata teranja-anja
Terlebih pada naungan maut yang kian singgah
Posted by Christopher PS ketika 6/30/2009 11:53:00 PM 0 comments
Labels: hari ini saja Tak Kusangka
Kelindan neraka (Seberkas sumpah)
Di balik tirai penghujam
Aku akan tetap menghantam
Kalanya aku berjubah hitam
Mungkin akan kubawa kelindan tajam
Menggenggam tampikan setan;
Langkah ini hanya jeritan
Jerit detak jantung tak rentan
Tak lagi untuk jiwa berperan
Kau disana lihati aku
Membikin hasrat yang terpaku
Bahwa engkau tahu ini aku
Hingga di sana terbujurlah aku
Takkan bisa kau kini
Dekati waktuku yang sembunyi
Kenapa kau terus membenci
mungkin kenyataan tak bernyanyi
bernyanyi di tunggak benakmu
goyah hikmat yang bertamu
Selama kau tak bertemu
Matahari di kala semu
Sebentar kau akan mampus
Aku pun tak akan menghapus
Abu siksaan yang terjangku terus
Diam dan tunggu masamu pupus
Kala itu aku berteriak
Air pun takut beriak
Tat kala setan sempat memihak
Di bahu tanjung bersorak
Nafas tinggal ampas
Tak hanya setebal kapas
Sirna itu tak pernah lepas
Meski sudah coba kau hempas
Hahaha kini tertawa
Melihat sosokmu dibawa
Dibawa terbang menembus hawa
Tunggu aku hingga nanti tua
Aku akan menyusul ke neraka
Menggenggam arti sebuah angan murka
Jangan harap bisa kau terka;
Melihat matimu penuh sirat luka
Posted by Christopher PS ketika 6/30/2009 11:49:00 PM 0 comments
Minggu, Juni 28
Rindumu, Sang Bulan ep 2
Fajar amat murni dan rapuh singgahsana gulung-gulung awan sebelum diamuk sinar mentari. Keduanya saling bertepi, matahari dan bulan. Bertatap dalam kesunyian ombak. namun tiada sempat ada petikan kata, terik tlah ada. menepis harum lembayung senja.
"Wahai gulung2 awan, biar kau yang jadi saksi. saksi keabadian cinta. Hati tak hangus terbakar meski penat tubuhku. Adalah mustahil bagiku bersua kembali." isak tangis matahari, dalam aduannya pada gulungan awan.
gema, desah awan berkata "Tiadakah kau tahu akan gerhana..."
meski tak tampak, palungan matahari tiada berperi melucuti keagungan Gerhana...
"bahkan itu tak kunanti selama 400 tahun" riang gembira naungan mentari. siang itu... besar rindunya pada rembulan. bulat tekad nya bercumbu dengan dewa malam...
"Bila kau tahu, aku pun tiada kau kenal pasti... rasanya jadi sang dewi... berjubah api, memikul lentera. Menorehkan canda tawa. Kau hanya awan bergulung demi keagunganku."
liku-liku awan bercerita. hingga malam tiba 100 tahun tlah usai. Dewa malam, halus parasnya, namun tegar bahasa senubarinya. dalam lingkar sinarnya bertampik. lekatnya Rembulan bercurah hati pada sang ombak.
"Kau tahu dewi lentera... tiadakah ada rindu di hatinya? ku selalu tunggu derai asmaranya. berkabung dalam kesunyian tiap siang. Dewi Lentera, dia yang kuinginkan. aku terlalu sunyi. diam tanpa seberkas cahaya."
"Tanyalah pada awan saat senja. mereka mengerti perasaan sang mentari. bahkan saat menjadi bola emas di penghujung senja." derai ombak tlah berkata...
"Tiada mungkin bagiku. Andai bintanglah saksinya... awan tak kan kulihat tiap malam. terlebih Mentari. Takdirku belum berpihak."
"Oh bulan, tiada kah kau tahu tentang gerhana... saat takdirmu berpihak. di sanalah kau bercumbu dengan sinarnya." Jawab deruan yang menyongsong, menggapai cakrawala. letih ia berlari. kesana-kemari. bibir pantai selalu menjadi dermaga baginya.
Posted by Christopher PS ketika 6/28/2009 01:00:00 AM 0 comments
Labels: hari ini saja Kisah kini dan selamanya


