BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Rabu, April 14

Selamat malam

itu sepenggal kata yang selalu kutinggal di atas meja pikirannya...


dengan segelas air putih dan obat-obat rutin nya setia menunggu dia terjaga dari tidurnya.

"siapa bilang? terlelap saja belum... seperti menelan karet ban mobil, sukar rasanya aku terlelap..."

...

bagaimana kalau kau hitung domba-domba itu...?

Kamis, April 8

Belum tapi kataku Sudah...

Belum...
Ternyata masih terluka
Ada dan masih menganga
Baru sadar, ketika orang itu tertawa
Senang, bangga, keji

Galau Galau Galau
Ingin kujaga, takut ada yg menambahkan parahnya
Aku takut, sedang apa dia disini?
Tolonglah, jangan mendekat untuk bermain
Aku hanya punya satu dan sedang rusak


___________________________________________________________________

Sudahlah...
Aku bagaikan titik air yang terjaga
di kaki pohon Randu
tak perduli pada semut pergi pulang membawa secercah lukamu
tak dengarkan riuh lalimanmu pada Orang itu

aku seperti rindangnya hutan hujan...
di tengah hangat gurun pasirmu

Jelaslah pantas bila aku singgah
Karena bukan jurusku untuk bermain

Aku di sana, bahkan disaat tidak kau pinta aku...
karena aku menjinjing sedikit celoteh mentari..
siapa bisa terka, kalau lukamu lekas-lekas mengering...

Sedikit pun coba kau sentuh, itu kulit wajahnya yang penuh keringat...
untukmu, secarik puisi itu tak berwajahkan dusta

Senin, April 5

Aksi-Reaksi


Saat sesuatu terjadi - Seperti gundu yang memantul yang seperti pandangan bola mata umat manusia - seperti awan yang bertandang yang seperti bersuara langkah kaki kecoak - seperti luap amarah yang seperti bau kulit kacang - seperti kelopak mata yang seperti bunga menguncup sore hari - Sesuatu akan membalas kembali.



Rabu, Maret 10

Bukan di Antara Fajar dan Petang (spesial post)


Baru saja aku beli sebatang dari warung kayu sebelah rumah.

Badannya lurus kaku kepalanya menjulur hitam seperti bebatu
badannya berserat sempit menyaring waktu

Lintasnya berderu di atas halaman kecoklatan
dalam detikan, hadir lentera yang basah menguning
Seperti suara sungai merindu...
titik hujan di musim gugur

Kusentuh erat menyiangi kegelapan
menanggalkan kelam dalam gulita
Menaruh separuh hangatnya di kesunyian

kuusir jauh lidah ledak dan bara
biar aman aku bernafas
tetap ku cekik naungan badai
biar tak ada pernah ia kenal menyerah...

Rabu, Februari 10

Berlalu

tulisan lama itu berbincang...
mengisahkan sakitnya
mengibaratkan terbenam senyumnya
tulisan lama itu berbincang
mengkiaskan perihnya
melukis peliknya

tulisan lama. . .
menitih kisah dahulu

tiada serupa dengan kenyataan
yang bagai diburu maut
liar melawan arus waktu. . .

kisahnya tlah lama di dengar
tak lama dirasa...
bagaikan sesak doa-doa itu
tidak sedikitpun dijawabkan
getah mendidih, tanda kehadiran
bayang-bayang sunyi. . .

Selasa, Januari 26

Phantom of The Opera - All I Ask of You

RAOUL : No more talkof darkness, Forget these wide-eyed fears. I'm here,nothing can harm you - my words will warm and calm you. Let me be your freedom, let daylight dry -your tears. I'm here, with you, beside you, to guard you and to guide you . . .

CHRISTINE : Say you love me every waking moment, turn my head with talk of summertime . . . Say you need me with you, now and always . . promise me that all you say is true - that's all I ask of you . . .


RAOUL : Let me be your shelter, let me be your light. You're safe: No-one will find you your fears are far behind you . . .


CHRISTINE : All I want is freedom, a world with no more night . . . and you always beside me to hold me and to hide me . . .


RAOUL : Then say you'll share with me one love, one lifetime . . . Iet me lead you from your solitude . . . Say you need me with you here, beside you . . anywhere you go, let me go too - Christine, that's all I ask of you . . .

CHRISTINE : Say you'll share with me one love, one lifetime . . . say the word and I will follow you . . .

BOTH : Share each day with me, each night, each morning . . .

CHRISTINE : Say you love me . . .

RAOUL : You know I do . . .

BOTH : Love me - that's all I ask of you . . .

(They kiss)

Anywhere you go
let me go too . . .
“Love me”
that's all I ask
of you . .

Janji-janji...

Nanti saja...

toh lupa aku akan janjiku...

Minggu, Januari 24

Cakrawala

kau pun memudar
bagai mentari menjemput
rembulan terjaga...
yang tak letihnya peluk langit fana
seperti melipur waktu
kau bagai sejarah datang duduk 
berjuntai di teras senja
menghalau sejuta kerinduan...

mimpi-mimpi di sungai hendaknya berlari
Antar cinta-cintanya pada sang dara
Dengan jigrahnya membungkus hasrat

Aku bagaikan tertinggal
Dibacakan lancang dosa
Dan nafsu, dan lalim, dan dukaku

aku daging membangkai
dengan semburat hadirmu
hembus seribu kembang kenangan
yang harum dan berkenan

Ah dinda… 
Yang Sesungguhnya berbisu kelam
Tulus hasratku mendarah daging
Tersirat dalam selasar nadi-nadi



Rabu, Desember 30

Haaaa...

di bawah garis lukisan cakrawala

gemuruh Sangkakala melengking tajam membisingkan

Lemah gemulai rerumputan rajangan

Liang pelita meruah absurd keabu-abuan

Lingkaran adagio merah muda

ditengahnya ada Gapura Jelitamu

Tak kusangka

Bayanganmu terus singgah

Tak kenal bila aku di surga adanya

Lihai benar kau ketuk Pintuku

Raguku beribu ruas

Senantiasa mengelami panorama kelabu

Sampaikan saat aku tiada

Kiranya tidak kau dongengkan lagi dosaku

Nyawaku selayang pandang

Senin, Desember 28

Raib...

Hening Biru Bulan tak henti mencari tahu...

Aduhai. siapa kawan ini... Kembang Platina, bagai mencari hatinya

Nila pasti warna hatinya... tak ingin kuragukan

Imaji pelangi... dimana letak kejenuhannya?

Elang pun tak henti mencari meski cuma serpih riwayatnya...

***

Hai, kamu yang sembari berlabuh

Aku tiada segan mencarikannya, mungkin ada di bawah liang tawa mentari

Ngarai nirwanakah isi hatimu?

Ilhamnya tak kunjung tiba, kamu tahu betul, bukan aku pencurinya

"Elok benar" itu yang kutahu tentangnya...

***

Hujan kepayang mulai lemas terjatuh

Adinda... dimana ditaruhnya hatimu?

Nestapa jangan lagi kau pikul, biar aku yang carikan...

Ibarat maut menitih - nitih dosa : dicari sampai palungan

Entah waktu pasti mati... aku tiada pernah jenuh melengah mencari... hatimu.

Selasa, Desember 22

Meski Jarang Ku Ucap.. Aku sayang Mama...

                                                                                             Hari Ibu...

ibu... kau yang biasa ku panggil “mama”

Detik ini… aku kah di hatimu?
Mungkin baru kuingat,
Tiap saat di lubuk hatimu aku berlutut

Ini hari… sejuta surat kasihku mulai tiba
Juga sejuta maafku…
“Mama… aku menyayangimu”
Mestinya kusebut berabad lalu
Namun sungguh itu yang kurasakan…
Mama, tiada pernah kau pinta kembali
Apa yang kau beri… itu lah tulus dari dalam hatimu
Jauh di dalam… tempat ditemukannya kasihmu padaku.

Mama pasti lelah kan…
Tirakatmu kau jaga
Menunggu kasihku yang entah tak kunjung tiba di benakmu
Memang aku ini anakmu, mama…
Namun kala aku bertumbuh
Rasa sayangku padamu,, kadang semakin pudar memutih
Entah aku memang durhaka…

Mama…
Ini hari… ingin aku lihat lekuk senyummu
Meski cuman sesaat saja…
Namun berarti bagiku…

Mengingat keringat jatuh di keningmu…
Di usiamu yang terlanjur senja…
Semoga “mama” …
Kelak menjalani hidup yang lebih bahagia…

Aku menangis…
Maafkan aku… dari sejuta dosa yang kutawarkan selalu.
Ingin sebentar saja aku peluk tubuh hingga kalbumu yang terdalam

“Mama…
Aku menyayangimu… tulus, tak ingin kupinta lagi darimu…
Karena ku tahu, kasihmu tiada berkesudahan…”

Jumat, Desember 18

Terlebih...

Kiranya keheningan menjulurkan bulu mata ke awang-awang pilunya. 

awal dari akhir yang tak berkesudahan...

kiranya tlah lama dimulaikan waktu...

bising, iblis-iblis kerdil tak mau melerainya.

terlebih...

bahkan jangan pernah jatuhkan pandangmu pada waktu.

enggan wajahnya berpaling walau saat matahari mengikis hari.

"ini kisah tentang rumput musim semi

hijau pekat penuh candu ceria

matahari terkantuk-kantuk... terbakar semu dunianya

pohon cemara lagi tidak lebat, 

padahal kukira ini desember...

jemari hujan harusnya menitih waktu

siang malam senantiasa bersaksi

                          satu..

                       dua...

                       tiga

                     empat...

                              lima...

                                  enam...

                                       tujuh.....

                                          delapan..

                                    sembilan..

                                         sepuluh..

                                                sebelas...

                                                      duabelas

                                        tigabelas

                            empatbelas...

tak terhingga " kau hitung hingga tak terhingga adanya...

bergelap gulita bagai malam tak ber-rembulan.

jenuh ku angka-angka semu ku sebut...

terus hingga tak terhingga...

tinggal abu dan gusar.. menyampulkan sejuta kerinduan..

Jumat, Desember 11

Kalau besok...?




wewangi lembayung senja... bunga... biaraku berbaring sejenak.memang kan hari ini hari terakhir di bumi pertiwi?
di pangkuan ibu...

di lingkar cincin Saturunus mulai tampak dari tempat pijak kakiku.

lurus tak ada tikungan, tanah-tanah menuju satu-satuan bintang.

dalam-dalam kau ukir di tanah
gurindam kesepian
"besok tiada lagi?" bagaikan rayu-rayu nyiur embun...

"Senja terakhir ya, lihat merpati sudah menari di rantai Cincin beku Saturnus.." Duh, entah remang cahaya di matamu sulit kutafsir dalam kitab. seperti sudah tertulis di rambutmu, sudah sejuta kali kau ucap. "cerita ini... telah tertulis di ruang riuh keabadian, nun jauh di sana, dimana entah aku temukan hatimu..."

langit mulai merona. waktu-waktu lalu, jangan kau toleh lagi... terlebih kau tunggu. Cuma letihkan manah, pentas manusia telah usai dibalik tirai merah. Tinggal tunduk hormat, gaduh kagum penuh sandiwara.

tiada punya waktu aku untuk mengantar asa kepada liang luka serupa palung rahim. waktu kini di genggam rama... kuasaku habis dirapuh sirik dan nafsu...

"Besok tiada lagi?" sejenak aku rindu peluk ibu, tapi dimana hendak kulepas?
"senja terakhir ini. tiada lama pun berlalu. lalu, tanpa sebersit penyesalan..."

Senin, Desember 7

Bukan...

yang kujanjikan ini bukan pelangi semu yang terkoyak saat hujan tlah usai...
aku menjadi kenyataan. memikul angin-angin mimpi pelukan.

aku bermimpi.. menjadi pria yang menjingjing berkas kehormatanmu.
berpegangkan medali perak, menaruh utuh nyawaku di bawah guyuran mentari
dalam sudut mata mu titik-titik fana telah kabur merantau...

segenap binasa kiranya kusisihkan...
mendayu tempat bagi keagungan
bagai sedang bersih-bersih permadani. Medan perang tidak sempit.

Bukanlah sesekali aku menepis badai gusar gelisah...



Sabtu, November 28

Duh, Adinda…

Secercah sinar di matanya 
Tak beda dengan mentari ketika fajar perlahan menyingsing.
Kulitnya teramat cerah, bagai langit yang tiada merindukan hadirnya hujan.
Ketika bibirnya ia lekukan, wajahnya tak segan berubah, 
berubah.. Semanis buah yang dikecap Hawa di taman Firdaus. 
Semerdu dawai-dawai harpa yang dipetikan Lucifer dahulu di nirwana,
Suara tiada jenuh-jenuhnya membuai daun telinga.

Alisnya.. tak tebal, tak tipis, bagai awan di langit kemarau.
Serasi dengan rambut ikalnya yang terlukis bagai jejak-jejak peluru hangat di udara.
Satu dua kali ia berlalu, harum semerbak menjadi buntutnya, seharum buah dudaim di malam perkawinan.

Jelita hatinya, terlukis dari lirih-lirih parasnya… Seperkasa ksatria nyalinya, 
Sehalus permaisiuri manjanya.
Sosok jelita itu perlahan,, perlahan menuai penatku…

Namun telah penuh terisi hatinya.
Tiada ruang tersisa.
Bagaikan kotak harta karun… isinya tiada kentara
Bahkan sudut hatinya tak kenal sedikitpun kekosongan.
Yah…
Kini berharap saja yang ku perbuat…
Hatinya dipenuhi kebahagian yang kekal abadi...

Rabu, November 18

Komet malam ini...

komet malam ini tak kan datang meski kamu tunggu. terlebih kamu pajang terus wajah murungmu itu.

Komet itu datang, dengan memberikan keindahan... namun tak hanyalah itu tujuannya...
bagaikan hatimu... Ia juga menulusuri jagat raya... mencari keindahan yang kekal.

jangan sekali-sekali kamu berharap..
komet akan membelah langit malammu dari timur ke barat daya.

pejamkan matamu satu kali saja. coba terka lubuk hatimu yang terdalam...
di dalam sanalah secercah keindahan senantiasa berdiam di dalam keagungannya.

lubuk hatimu yang benderang melambangkan kesucian murni kekal adanya.
adinda... jangan kau tunggu komet malam ini... tak kan tiba hadirnya meski kau tunggu...

karena komet itu... datang dengan memberikan keindahan... namun tak hanyalah itu tujuannya...
bagaikan hatimu... Ia juga menulusuri jagat raya... mencari keindahan yang kekal.

Senin, November 16

조용함... [dalam untaian kronologis]

dikepung hujan...

sendiri, dalam kelamnya raungan sepi.

"teruslah kamu menangis. aku akan berada di sebelahmu.
kalau kamu sudah rasakan hangatnya hatiku...

aku mohon berhentilah menangis..
tapi kalau belum, aku tak akan segan memberi setiap kasihku padamu."

dalam sunyi yang tengah waktu janjikan

"kamu akan kupeluk erat. hingga kau rasa, ada lilin yang menyala di dalamku.
sesekali kukecup keningmu. lalu kupandang wajahmu dalam-dalam. sembari ku genggam kedua belah pipimu yang terbelah air matamu.

lalu kamu kupeluk kembali. kupegang punukmu, mendorong kepalamu ke atas bahuku.
perlahan ku lepas pelukku, kutatap lagi wajahmu dalam. dalam...
bahkan kamu tak akan bisa mengerti... "

Dalam keheningan yang erat...

"kukatakan sejuta kali rangkaian kata -sungguh aku menyayangimu-
yang tlah kujanjikan padamu, bahwa rasa itu tak pernah pudar.
dan kamu pun tak hentinya menangis. Penuh haru dan kebimbangan. lalu kupeluk kembali untuk ketiga kalinya, tubuhmu itu.

dalam dekapku kubacakan syair-syair kesukaanmu. lagu-lagu kesukaanmu kudendangkan.
perlahan kamu berhenti menangis. dan kutatap wajahmu yang mungil.
ingin rasanya ku kecup bibirmu yang merah. bolehkah?"

kau anggukan kepalamu. sesaat kau penjamkan matamu.

"aku lakukan ini sangat perlahan. penuh kesabaran namun tak ragu. perlahan...
...

bibirku mulai menyentuh bibirmu. dingin sekali. kamu bagai habis makan ice cream. tapi untuk itulah aku telah hadir. memberi kehangatan padamu.
Rasa ciuman ini, kian lama terasa hangat kan? kamu terus pejamkan matamu. penuh kesabaran sembari perlahan tanganku memegang lekuk tubuhmu. dan bibir ku mulai lah menyentuh dagu hingga lehermu."

Lemah lembut sekali kau menyudahi kemesraan ini. pedih dan perih dan luka dan tangis dan bimbang habis sudah kukecup.

"kamu jangan bersedih lagi. aku akan ada di sampingmu. memegang erat tangan serta hatimu..."

Tenderly..

in this moment, can i bring you a lovely kiss?
even just for once, i'll promise to you it won't fade in your memories.

or..
i'll ask you something deeper than the ocean...

in this moment, can i still love you?
because your eyes give me no mercy.

in this moment, can i be the only one?
just once, i'll hold you closely
than i'll stroke your cheek... take you to the leap of faith.

Sabtu, November 14

...

yang kau butuhkan bukan petunjuk
juga bukan diriku...
tetapi waktu.

terkadang pun aku tiada mengerti

bahwa penyesalan datang bukan karena kesalahan
terlebih kegagalan.

Melainkan KEKTAKUTAN dalam diri seseorang

dan kesakitan ada bukan karena ditinggal
atau pengkhianatan
melainkan ada karena tak adanya pengertian mendalam
dalam sebuah kisah.

kematian bukan berarti kepergian
bukan juga ujung sebuah perjalanan hidup

kematian adalah akhiran semu dalam proses yang kita
tempuh. tak akan kembali, namun tak akan pernah usai
juga.